Minggu, 29 Juni 2014

Bekerjasama dalam team (kelompok) atau Team Work

     1.      Pengertian dan Karakteristik Kelompok

Kelompok (team) merupakan satu tipe group yang dapat didefinisikan sebagai sejumlah kecil orang (a small number of people) dengan ketrampilan (skill) yang saling melengkapi, yang berkomitmen pada satu maksud bersama, mengarah pada tujuan yang tertentu, dan pendekatan yang serupa yang mengikat-satukan mereka dalam tanggung jawab secara mutual. Satu tim ambil bagian dalam pekerjaan kolektif yang dihasilkan lewat usaha yang terkoordinasi sehingga hasilnya melebihi usaha individu, tetapi buah dari adanya sinergi. Anggota tim bertanggung jawab bagi pelaksanaan tugas-tugas baik sebagai individu maupun sebagai group (Cook dan Hunsaker, 2001:352).
      Ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang kelompok, diantaranya :
     1.      Hornby, A.S (1973: 441) “Kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang berkumpul atau ditempatkan secara bersama-sama atau secara alamiah berkumpul”.
       2.      Webster (1989: 425) “Kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang bergabung secara erat dan menganggap dirinya sebagai suatu kesatuan”.
     3.      Slamet Santosa (1992: 8), “Kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”.
     4.      Zaltman (1972: 75), “Kelompok adalah kekuatan-kekuatan yang berlangsung dalam kelompok, kekuatan tersebut bertujuan memberikan arah perilaku kelompok”.
        5.      (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948) Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi.
       6.      Robert K. Merton “Kelompok adalah sekumpukan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan”.
  
     
     Karakteristik Kelompok

1.        Terdiri dari dua orang atau lebih dalam interaksi sosial baik  secara verbal maupun non verbal.
2.        Anggota kelompok harus mempunyai pengaruh satu sama lain supaya dapat diakui menjadi anggota suatu kelompok
3.        Mempunyai struktur hubungan yang stabil sehingga dapat menjaga anggota kelompok secara bersama dan berfungsi sebagai suatu unit.
4.        Anggota kelompok adalah orang yang mempunyai tujuan atau minat yang sama.
5.        Individu yang tergabung dalam kelompok, saling mengenal satu    sama lain serta dapat membedakan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya.

     2.      Tahap-tahap Pembentukan Kelompok 

     Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.
    1.      Forming , Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.
    2.      Storming, Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing.
      3.      Norming, Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok.
     4.      Performing, Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.
   5.      Adjourning dan Transforming, Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

     3.      Kekuatan Team Work

Team Work berasal dari bahasa asing terdiri dari dua suku kata Team dan Work. Tim adalah sekumpulan orang berakal yang terdiri atas dua, lima, hingga dua puluh orang dan memenuhi syarat terpenuhinya kesepahaman sehingga terbentuk sinergi antar berbagai aktifitas yang dilakukan anggotanya. Work (kerja) adalah kegiatan yang dijalankan oleh tiap individu yang telah terpenuhinya syarat kesepahaman di dalam tim itu sendiri.
Kerjasama tim atau teamwork Scarnati (2001) sebagai proses yang memungkinkan orang biasa untuk mencapai hasil yang luar biasa. Kekuatan dari sebuah teamwork terletak pada kemampuan kerjasama dari kelompok tersebut. Bisa menyatukan visi dan misinya sehingga dapat mencapai tujuan yang diingginkan kelompok tersebut. Secara umum, untuk membangun teamwork yang solid dibutuhkan beberapa syarat :
1.    Tidak bersikap individualistis
    Disuatu team masing-masing individu tidak boleh menunjukan sifat indivudual atau egois. Karena sifat tersebut akan membuat team tidak akan mencapai tujuan yang diinnginkan. Sifat saling menghargai, menerima dan terbuka sangat dibutuhkan disini
2.    Memerikan kontribusi
    Keberhasilan suatu teamwork hanya bisa dicapai karena adanya kontribusi dari setiap individu yang terlibat. Untuk itu setiap anggota tim harus mampu berperan sesuai dengan kompetensinya, sehingga satu sama lain bisa saling melengkapi.
3.    Bersikap fleksibel 
   Ada kesediaan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan. Setiap tim harus menjadi ‘learning community’ artinya mereka harus cepat memetakan situasi serta mempelajari ketrampilan baru yang diperlukan untuk menjadi pemenang dalam situasi persaingan.
4.    Komunikasi 
    Komunikasi adalah cara untuk saling mengenali satu sama lain. Dalam prosesnya, hubungan yang erat, dimana satu sama lain saling mengenal dengan baik, saling memahami sehingga dapat membaca apa yang sedang dibutuhkan yang lain tanpa harus mengatakannya.
5.    Komitmen
    Setiap anggota harus memberikan komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan perusahaan. Hal ini ditandai dengan sikap loyal, semangat untuk mencapai tujuan, berupaya untuk menampilkan hasil kerja yang berkualitas dan sempurna, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya dan disiplin.
6.    Kepercayaan dan Saling Menghargai 
    Dengan saling percaya dan saling menghormati, tidak ada musuh yang dapat mengalahkan kita. Setaip anggota tim dapat saling bergantung dan berpegang bersama menempuh berbagai tekanan, menghadapi perlawanan, menghadapi persoalan, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.
7.    Patuhilah Pemimpin 
   Pemimpin sangat dibutuhkan karena mampu menggerakkan anggotanya mencapai tujuan perusahaan. Dalam kerja tim, anggota tim harus bersedia mematuhi pemimpinnya. Meski demikian, ini tidak berarti pemimpin harus menjadi tiran, yang hanya memaksakan kehendak, dan anggota hanya sebagai hamba saja.

       4.      Implikasi Manajerial.

Implikasi manajerial adalah untuk meningkatkan efektifitas teamwork dalam sebuah perusahaan memerlukan teamwork yang baik antara bagian dan divisi dalam perusahaannya tersebut,agar perusahaan dapatberkembang dan bergerak maju dengan lebih cepat.

·         M. Ahmad Abdul Jawwad, MANAJEMEN TEAM WORK, PT. Syaamil Cipta Media,2006
·         Drs. Slamet Santosa, M.Pd, Dinamika Kelompok, Bumi Aksara, 2004
·         Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial Kelompok dan Terapan, PT Balai Pustaka, 1999
· http://prodipps.unsyiah.ac.id/Jurnalmm/images/Jurnal/2012/2.November/1(1-17)husnaina%20mailisa%20safitri.pdf

Kamis, 15 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

A.   Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan

Keputusan adalah mencari sebuah solusi atau kesimpulan untuk memilih tindakan yang terbaik dari sejumlah alternative yang ada. Setiap keputusan akan membuat sebuah pilihan yang tepat yang bisa berupa opini dan tindakan. Mengambil keputusan adalah tindakan sentral dalam tugas menajer dalam mengoordinasi usaha organisasi mencapai sasaran. Keberhasilan informasi adalah bahan vital bagi pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks (Kast dan Rosenweig, 1979).
Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli
      ·         George R. Terry
Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
      ·         Sondang P. Siagian
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
      ·         James A. F. Stoner
Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
            1.         Intuisi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh.
2.        Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu. Orang yang memiliki banyak pengalaman akan lebih matang dalam membuat keputusan.
            3.         Fakta
Pengambilan keputusan ini  memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi.
          4.         Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
           5.         Logika/Rasional
Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
·           Kejelasan masalah
·           Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai
·           Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya
·           Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai criteria
·           Hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal

B.  Jenis – Jenis Keputusan Organisasi.

Proses pengambilan keputusan yang dijalankan secara baik akan melahirkan putusan – putusan organisasi, bauk diputuskan secara pribadi seelah menerima informasi dari bawahan melalui musyawarah maupun putusan diambil sendiri oleh manajer tanpa melibatkan bawahan. Keputusan adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan keputusan. Secara umum keputusan dibagi menjadi dua jenis yaitu.
1.      Keputusan Strategis
Setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau keputusan organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
2.      Kebijakan Operasional
Keputusan opeasinal sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak (Drummond, 1995: 13)

Disisi lain adapula pembagian jenis keputusan berdasarkan maslah yang dihadapi, yaitu
1.      Keputusan yang diprogramkan ( program decision)
Keputusan ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada masalah yang diketahui secara baik (well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
2.      Keputusan yang tidak diprogramkan ( non-pro-grammed decision).
Keputusan ini adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahuisecara jelas (ill-structured problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.

C.            Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan.

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
1.        Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
2.        Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
3.        Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain.
4.        Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan.
5.        Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik.
6.        Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama.
7.        Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik.
8.        Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul.
9.        Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.

Suatu proses memilih tindakan yang tepat dari berbagai alternatif yang dianggap tepat untuk menyelesaikan suatu persoalan menyebabkan pengambilan haruslah menghindari berbagai sikap yang tidak kondusif bagi lahirnya keputusan yang baik, yaitu:
·           Jangan mengambil keputusan secara kebetulan.
·           Jangan mengambil keputusan secara sembrono.
·           Jangan mengambil keputusan tanpa menguasi atau mengetahui hakikat masalah.
·           Harus memilh dari berbagai alternatif untuk dianalisis dan jangan hanya satu alterntif saja yang disediakan.

D.  Implikasi Manajerial

      a.       Gaya pengambilan keputusan.
      b.      Gaya direktif (pengarahan).
      c.       Gaya analitis.
      d.      Gaya konseptual.
      e.       Gaya perilaku.

Sumber: 
Nachrowi D., Usman Hardius. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: PT Grasindo
Syafaruddin, Anzizhan. 2004. Sistem pengambilan keputusan pendidikan. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Nachrowi D & Hardius Usman. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: Grasindo


Selasa, 15 April 2014

Kepemimpinan

1.      Arti Penting Kepemimpinan.

     Pemimpin adalah orang yang menciptakan perubahan yang paling efektif dalam kinerja kelompoknya (Fiedler dan Chemers , 1974). Didalam Bahasa inggris pemimpin disebut leader,. Akar katanya to lead yang mempunyai beberapa arti bergerak lebih awal, berjalan didepan, membimbing, menuntun dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Suatu kelompok pemimpin sangat dibutuhkan untuk mencapai kinerja yang maksimal. Pemimpin memberi pengaruh besar dan dia adalah sebagai tombak kunci dari kesuksesan suatu kelompok. Menurit Stogdill menjelaskan bahwa kepemimpinan difenisikan sebagai proses mempengaruhi kelompok dalam perumusan dan pencapaian tujuan.
     Seseorang yang menjabat sebagai pemimpinan tidak hanya ingin mencapai kedudukan tertinggi disuatu organisasi. Namun  inti dari kepemimpina adalah fungsi atau tugas. Dia melakukan bukan hanya untyk kepentingan diri sendiri namun untuk mencapai kepentingan bersama disuatu organisasi. Tujuan untuk mencapai keberhasilan berguna dan bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan orang banyak.
     Menurut Bennis dan Nanus (1985) “ Kepemimpinan sering dikatakan mitos, karena merupakan keterampilan yang langka. Ia adalah suatu proses insani, penuh dengan uji coba, menang atau kalah, banyak menyita waktu, sesuatu yang kebetulan. Kepemimpinan adalah Kharismatik.”
     Tujuan kepemimpinan adalah tugas pengabdian , dia bergerak demi menyelesaikan suatu permasalahan demi tujuan cita-cita bersama. Organisasi membutuhkan kepemimpinan dan menajemn yang kuat agar mengasilkan hasil yang optimal. Kehadiran seorang pemimpin dalam suatu organisasi ialah untuk menggerakkan orang- orang dalam organisasi tersebut.

2.      Topologi Kepemimpinan.

Tipe kempemimpinan menurut Siagan(1997):

a.      Tipe Otoriter, yaitu tipe  dengan gaya kepemimpinan yang mengaanggap organisasi sebagai milik pribadi. Pemimpin ini mempunyai sifat yang egois, egoismenya sangat besar yang selalu memaksa kehendak dan tidak mengenal musyawarah dan tipe kepemimpinan ini sangat keras.

b.  Tipe  Militeristis yaitu tipe dengan gaya kempemimpinan mempunyai sifat Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahan.

c.  Tipe Paternalistik, yaitu tipe dengan gaya kepemimpinan yang mememiliki sifat yqng mengutamakan kebersamaan. Pemimpin yang memperlakukan bawahan seadil dan serata mungkin.

d.  Tipe Kharismatik, yaitu  pemimpin yang diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Adanya keyetarikan yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat banyak. Mereka tidak bisa menjelaskan secara pasti kenapa  mereka mengangumi pemimpin tersebut.

e.    Tipe Demokratis, yaitu tipe kepemimpinan yang sangat mengandalkan team work. Sesuai dengan tujuan awal kepemimpinan. Dimana seorang pemimpin selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi,  senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya.

3.        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan.

a.        Faktor Kemampuan.

Kemampuan adalah potensi yang dimiliki seseorang yang didapatkan sejak lahir dan didapatkan melalui pendidikan. Dalam kepemimpinan, faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi yang dimiliki sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Konsepsi kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan berbagai kualitas/kemampuan yang dimilikinya.

b.        Faktor Jabatan.

Jabatan adalah struktur kekuasaan yang diduduki oleh pemimpin tersebut. Seorang pemimpin harus memiliki citra tentang perilaku kepemimpinan yang digunakan sehingga sesuai dengan situasi yang menyertainya dan  dia harus memahami konsep peranan role consept dan role ekspektation

c.         Faktor Situasi dan Kondisi.

Disaat situasi tertentu seorang pemimpin terkadang bertindak secara cepat dan refleks untuk menyelesaikan sesuatu. Oleh karena itu kondusifitas situasi antara Atasan dan Bawahan memang harus saling dikuatkan agar selalu terjadi kondisi situasi yang nyaman dan kondusif.

4.        Implikasi Menajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Menurut Teori Gril yamg dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mouton. Mereka membedakan dimensi kepemimpinan menjadi dua yaitu concern for people dan concern for production. Berdasarkan dua aspek tersebut teori ini mengenal 5 gaya kepemimpinan yaitu:
a.       Improvised, yaitu pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan tugas tertentu.
b.   Country Club, yaitu pemimpin yang memperhatikan hubungan informal antar individu sehingga menciptakan rasa nyaman antar sesama.
c.        Team, yaitu kepemimpinan yang didasarkan dengan keberhasilan suatu organisasi. Adanya kerjasama, pengabdian dan komitmen yang dibentuk oleh pemimpin dengan bawahan.
d.  Task, yaitu pemimpin memandang efiensi kerja sebagai faktor utama keberhasilan organisasi.
e.  Middle Road, yaitu pemimpin yang menyimbangkan antara keseimbangan tugas dan hubungan manusiawi.

Berdasarkan teori menajerial grid ada dua orientasi yang dijadikan tolak ukur pemimpin dalam berorganisasi yaitu hubungan dengan manusia dan tugas. Adanya hubungan antara individu dalam suatu kelompok seperi atasan degan bawahan, bawahan dan atasan maupun bawahan dengan bawahan dalam menyelesaikan suatu tugas. Pemimpin, bertugas memberikan arahan serta bimbingan terhadap bawahannya, sehingga mereka dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Implikasi teori ini terhadap system komunikasi organisasi adalah bahwa teori ini memandang pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan dengan lima gaya yang berbeda dari para pemimpin. Menurut Blake dan Mouton, gaya kepemimpinan team merupakan gaya kepemimpinan yang paling disukai. Kepemimpinan gaya ini berdasarkan integrasi dari dua kepentingan yaitu pekerjaan dan manusia.


A.M. Mangunhardjana, SJ, 1976, Kepemimpinan, Kanisius
Prof. Dr. J. Salusu, M.A. Pengambilan Keputusan Stratejik,  Juni 1998 , PT Grasindo.
Sondang P. Siagan, Teori dqn Praktek Kepemimpinan, 2010, Rineka Cipta