Kamis, 15 Mei 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi

A.   Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan

Keputusan adalah mencari sebuah solusi atau kesimpulan untuk memilih tindakan yang terbaik dari sejumlah alternative yang ada. Setiap keputusan akan membuat sebuah pilihan yang tepat yang bisa berupa opini dan tindakan. Mengambil keputusan adalah tindakan sentral dalam tugas menajer dalam mengoordinasi usaha organisasi mencapai sasaran. Keberhasilan informasi adalah bahan vital bagi pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks (Kast dan Rosenweig, 1979).
Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli
      ·         George R. Terry
Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
      ·         Sondang P. Siagian
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
      ·         James A. F. Stoner
Pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
            1.         Intuisi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif sehingga mudah terkena pengaruh.
2.        Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu. Orang yang memiliki banyak pengalaman akan lebih matang dalam membuat keputusan.
            3.         Fakta
Pengambilan keputusan ini  memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi.
          4.         Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya.
           5.         Logika/Rasional
Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semuan unsur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
·           Kejelasan masalah
·           Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai
·           Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya
·           Preferensi yang jelas : alternatif bisa diurutkan sesuai criteria
·           Hasil maksimal : pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal

B.  Jenis – Jenis Keputusan Organisasi.

Proses pengambilan keputusan yang dijalankan secara baik akan melahirkan putusan – putusan organisasi, bauk diputuskan secara pribadi seelah menerima informasi dari bawahan melalui musyawarah maupun putusan diambil sendiri oleh manajer tanpa melibatkan bawahan. Keputusan adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan keputusan. Secara umum keputusan dibagi menjadi dua jenis yaitu.
1.      Keputusan Strategis
Setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau keputusan organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
2.      Kebijakan Operasional
Keputusan opeasinal sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak (Drummond, 1995: 13)

Disisi lain adapula pembagian jenis keputusan berdasarkan maslah yang dihadapi, yaitu
1.      Keputusan yang diprogramkan ( program decision)
Keputusan ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada masalah yang diketahui secara baik (well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
2.      Keputusan yang tidak diprogramkan ( non-pro-grammed decision).
Keputusan ini adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahuisecara jelas (ill-structured problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.

C.            Faktor – faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan.

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
1.        Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan.
2.        Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi.
3.        Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain.
4.        Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan.
5.        Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik.
6.        Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama.
7.        Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik.
8.        Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul.
9.        Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.

Suatu proses memilih tindakan yang tepat dari berbagai alternatif yang dianggap tepat untuk menyelesaikan suatu persoalan menyebabkan pengambilan haruslah menghindari berbagai sikap yang tidak kondusif bagi lahirnya keputusan yang baik, yaitu:
·           Jangan mengambil keputusan secara kebetulan.
·           Jangan mengambil keputusan secara sembrono.
·           Jangan mengambil keputusan tanpa menguasi atau mengetahui hakikat masalah.
·           Harus memilh dari berbagai alternatif untuk dianalisis dan jangan hanya satu alterntif saja yang disediakan.

D.  Implikasi Manajerial

      a.       Gaya pengambilan keputusan.
      b.      Gaya direktif (pengarahan).
      c.       Gaya analitis.
      d.      Gaya konseptual.
      e.       Gaya perilaku.

Sumber: 
Nachrowi D., Usman Hardius. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: PT Grasindo
Syafaruddin, Anzizhan. 2004. Sistem pengambilan keputusan pendidikan. Jakarta: Gramedia Widiasarana
Nachrowi D & Hardius Usman. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: Grasindo


Selasa, 15 April 2014

Kepemimpinan

1.      Arti Penting Kepemimpinan.

     Pemimpin adalah orang yang menciptakan perubahan yang paling efektif dalam kinerja kelompoknya (Fiedler dan Chemers , 1974). Didalam Bahasa inggris pemimpin disebut leader,. Akar katanya to lead yang mempunyai beberapa arti bergerak lebih awal, berjalan didepan, membimbing, menuntun dan menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Suatu kelompok pemimpin sangat dibutuhkan untuk mencapai kinerja yang maksimal. Pemimpin memberi pengaruh besar dan dia adalah sebagai tombak kunci dari kesuksesan suatu kelompok. Menurit Stogdill menjelaskan bahwa kepemimpinan difenisikan sebagai proses mempengaruhi kelompok dalam perumusan dan pencapaian tujuan.
     Seseorang yang menjabat sebagai pemimpinan tidak hanya ingin mencapai kedudukan tertinggi disuatu organisasi. Namun  inti dari kepemimpina adalah fungsi atau tugas. Dia melakukan bukan hanya untyk kepentingan diri sendiri namun untuk mencapai kepentingan bersama disuatu organisasi. Tujuan untuk mencapai keberhasilan berguna dan bermanfaat bagi kesejahteraan kehidupan orang banyak.
     Menurut Bennis dan Nanus (1985) “ Kepemimpinan sering dikatakan mitos, karena merupakan keterampilan yang langka. Ia adalah suatu proses insani, penuh dengan uji coba, menang atau kalah, banyak menyita waktu, sesuatu yang kebetulan. Kepemimpinan adalah Kharismatik.”
     Tujuan kepemimpinan adalah tugas pengabdian , dia bergerak demi menyelesaikan suatu permasalahan demi tujuan cita-cita bersama. Organisasi membutuhkan kepemimpinan dan menajemn yang kuat agar mengasilkan hasil yang optimal. Kehadiran seorang pemimpin dalam suatu organisasi ialah untuk menggerakkan orang- orang dalam organisasi tersebut.

2.      Topologi Kepemimpinan.

Tipe kempemimpinan menurut Siagan(1997):

a.      Tipe Otoriter, yaitu tipe  dengan gaya kepemimpinan yang mengaanggap organisasi sebagai milik pribadi. Pemimpin ini mempunyai sifat yang egois, egoismenya sangat besar yang selalu memaksa kehendak dan tidak mengenal musyawarah dan tipe kepemimpinan ini sangat keras.

b.  Tipe  Militeristis yaitu tipe dengan gaya kempemimpinan mempunyai sifat Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahan.

c.  Tipe Paternalistik, yaitu tipe dengan gaya kepemimpinan yang mememiliki sifat yqng mengutamakan kebersamaan. Pemimpin yang memperlakukan bawahan seadil dan serata mungkin.

d.  Tipe Kharismatik, yaitu  pemimpin yang diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Adanya keyetarikan yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat banyak. Mereka tidak bisa menjelaskan secara pasti kenapa  mereka mengangumi pemimpin tersebut.

e.    Tipe Demokratis, yaitu tipe kepemimpinan yang sangat mengandalkan team work. Sesuai dengan tujuan awal kepemimpinan. Dimana seorang pemimpin selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi,  senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya.

3.        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepemimpinan.

a.        Faktor Kemampuan.

Kemampuan adalah potensi yang dimiliki seseorang yang didapatkan sejak lahir dan didapatkan melalui pendidikan. Dalam kepemimpinan, faktor pribadi yang berupa berbagai kompetensi yang dimiliki sangat mempengaruhi proses kepemimpinannya. Konsepsi kepemimpinan umumnya memusatkan perhatian kepada pribadi pemimpin dengan berbagai kualitas/kemampuan yang dimilikinya.

b.        Faktor Jabatan.

Jabatan adalah struktur kekuasaan yang diduduki oleh pemimpin tersebut. Seorang pemimpin harus memiliki citra tentang perilaku kepemimpinan yang digunakan sehingga sesuai dengan situasi yang menyertainya dan  dia harus memahami konsep peranan role consept dan role ekspektation

c.         Faktor Situasi dan Kondisi.

Disaat situasi tertentu seorang pemimpin terkadang bertindak secara cepat dan refleks untuk menyelesaikan sesuatu. Oleh karena itu kondusifitas situasi antara Atasan dan Bawahan memang harus saling dikuatkan agar selalu terjadi kondisi situasi yang nyaman dan kondusif.

4.        Implikasi Menajerial Kepemimpinan dalam Organisasi

Menurut Teori Gril yamg dikemukakan oleh Robert K. Blake dan Jane S. Mouton. Mereka membedakan dimensi kepemimpinan menjadi dua yaitu concern for people dan concern for production. Berdasarkan dua aspek tersebut teori ini mengenal 5 gaya kepemimpinan yaitu:
a.       Improvised, yaitu pemimpin menggunakan usaha yang paling sedikit untuk menyelesaikan tugas tertentu.
b.   Country Club, yaitu pemimpin yang memperhatikan hubungan informal antar individu sehingga menciptakan rasa nyaman antar sesama.
c.        Team, yaitu kepemimpinan yang didasarkan dengan keberhasilan suatu organisasi. Adanya kerjasama, pengabdian dan komitmen yang dibentuk oleh pemimpin dengan bawahan.
d.  Task, yaitu pemimpin memandang efiensi kerja sebagai faktor utama keberhasilan organisasi.
e.  Middle Road, yaitu pemimpin yang menyimbangkan antara keseimbangan tugas dan hubungan manusiawi.

Berdasarkan teori menajerial grid ada dua orientasi yang dijadikan tolak ukur pemimpin dalam berorganisasi yaitu hubungan dengan manusia dan tugas. Adanya hubungan antara individu dalam suatu kelompok seperi atasan degan bawahan, bawahan dan atasan maupun bawahan dengan bawahan dalam menyelesaikan suatu tugas. Pemimpin, bertugas memberikan arahan serta bimbingan terhadap bawahannya, sehingga mereka dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Implikasi teori ini terhadap system komunikasi organisasi adalah bahwa teori ini memandang pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan dengan lima gaya yang berbeda dari para pemimpin. Menurut Blake dan Mouton, gaya kepemimpinan team merupakan gaya kepemimpinan yang paling disukai. Kepemimpinan gaya ini berdasarkan integrasi dari dua kepentingan yaitu pekerjaan dan manusia.


A.M. Mangunhardjana, SJ, 1976, Kepemimpinan, Kanisius
Prof. Dr. J. Salusu, M.A. Pengambilan Keputusan Stratejik,  Juni 1998 , PT Grasindo.
Sondang P. Siagan, Teori dqn Praktek Kepemimpinan, 2010, Rineka Cipta






Senin, 17 Maret 2014

Peran Komunikasi dalam Organisasi

1.      Pengertian dan Arti Penting Komunikasi.

Komunikasi adalah suatu cara seseorang berinteraksi satu sama lain untuk memberi dan menerima informasi yang dibutuhkan. Komunikasi itu adanya karena ada suatu percakapan antara dua orang atau lebih. Memberi dan menerima informasi yang dibutuhkan satu sama lain. Membentuk sebuah proses yang timbal balik antara si pemberi informasi dan si penerima informasi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Adapun Pengertian Komunikasi menurut beberapa ahli:
·         Komunikasi adalah suatu proses yang memberikan signal menurut aturan tertentu, sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan diubah. (Louis Forsdale, 1981).
·         Komunikasi manuasia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi masyarakat menciptakan, mengirimkan, mengunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungan dan orang lain.(Brent D. Ruben ,1988).
·         Komunikasi adalah proses yang mana simbol verbal dan nonverbal dikirim,diterima, dan diberi arti. (Seiler, 1988).
·         Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa? Mengatakan apa? Dengan saluran apa? Kepada siapa? Dengan akibat atau hasil apa?. (Lasswell 1960).
·         Ilmu Komunikasi adalah suatu konstruksi yang dibuat oleh manusia, seperti tanah liat yang dapat dibentuk apa saja atau air yang memenuhi wadah yang bagaimanapun bentuknya (Deddy Mulyana, 2011).

Komunikasi sangat penting bagi manusia karena sebagai mahluk sosial kita harus berinteraksi dengan sama untuk mencapai tujuan hidup. Dengan komunikasi kita bisa hidup saling bergotong royong dengan sesama manusia dan juga untuk kelangsungan hidup.
Menurut Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson. Komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi: keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.( Deddy Mulyana, 2008)


2.      Jenis dan Proses Komunikasi.

       A.    Jenis komunikasi 
       a.  Komunikasi Verbal.
Komunikasi verbal adalah komukasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata, baik yang dinyatakan secara oral atau lisan mmaupun secara lisan. Komunikasi verbal dapat dibedakan atas komukasi lisan dan komunikasi tulisan
Komunikasi lisan dapat mendefenisikan sebagai suatu proses dimana seseorang berinterkasi secara lisan dan menyampaikan informasi agar membuat si penerima atau si pendengar terpengaruh dengan perkataannya. Didalam organisasi terdapat bermacam-macam tipe dari komunikasi lisan yaitu: intruksi, penjelasan, laporan lisan, pembicaraan.
Komumikasi tulisan ialah komunikasi yang penyampaian berupa tulisan seperti surat, memo, surat petunjuk, gambar, laporan, dan lain-lain. Prinsip- prinsip komunikasi secara tulisan adalah kebenaran cara menulis, keringkasan isi, kelengkapan, kejelasan  dan kesopansantunan.(Lewis,1987).

      b.      Komunikasi Non Verbal.
Komunikasi non verbal adalah pemciptaan dan petukaran pesan dengan tidak menggunakan kata-kata seperti komunikasi yang menggunakan gerakan tubuh, sikap tubuh, vokal yang bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak dan sentuhan.
Komunikasi verbal dapat mengekspresikan perasaan seseorang dengan ekspersi wajah, suara, sikap. Tiap gerakan yang ditampilkan kita dapat menyatakan sikap, kesehatan dan keadan psikologis seseorang.

     B.     Proses komunikasi.
Proses komunikasi adalah langkah- langkah yang dilakukan untuk memulai menciptakan sebuah informasi dan dipahami oleh penerimanya. Menutut Joseph De Vito (1996) mengemukakan komunikasi adalah transaksi. Hal tersebut dimaksudkan bahwa kommunikasi merupakan suatu proses, dimana komponen-komponen saling terkait. Bahwa para pelaku komunikasi beraksi dan bereaksi sebagai satu kesatuan dan keseluruhan. Adapun proses komunikasi adalah sebagai berikut:
1.         Pengirim pesan, orang yang mengirim pesan. Pesan yang akan dikirim berasal dari otak sipengirim.
2.         Pesan, informasi yang akan dikirimkan kepada pada sipenerima. Pesan tersebut bisa berupa verbal dan non verbal.
3.         Saluran, merupakan perantara yang dipakai pesan dalam menempuh perjalanan.
4.         Penerima pesan, orang yang menerima pesan dari sipengirim dan menganalisis isi pesan yang ia terima.
5.         Umpan balik, bentuk respons si penerima terhadap pesan yang ia terima oleh si pengirim. Si penerima memberikan reaksi kepada surat yang dia terima dan pengirim dapat mengetahui pesan yang ia kirim sampai kepada si penerima atau tidak.

Setelah adanya tahap komunikasi adapun juga unsur komunikasi. Wilbur Schramm menyatakan bahwa proses komunikasi harus memiliki 3 unsur yaitu komunikator, pesan dan komunikan. Sedangkan Harold D Laswell memperkenal 5 formula komunikasi untuk terjadinya suatu proses komunikasi, yaitu
a.         Who? (siapa/pengirim). pelaku utama yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi.
b.         Say What? (pesan). Apa yang akan disampaikan kepada sipenerima.
c.         In Which Channel? (saluran/media) alat untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima.
d.        To Whom? (untuk siapa/penerima). Orang yang menerima pesan dari pengirim.
e.         With What Effect? (dampak). Efek penerima setelah mendapatkan pesan.

3.      Komunikasi Efektif.

Komunikasi Efektif adalah adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi. komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima (Yusrizal,2005). Tujuan dari komunikasi efektif ini adalah memberi kemudahan dan memahami sebuah pesan yang diterima dan diberikan.

Bentuk komunikasi efektif :
               a.       Komunikasi verbal efektif :
·         Berlangsung secara timbal balik.
·         Makna pesan ringkas dan jelas.
·         Bahasa mudah dipahami.
·         Cara penyampaian mudah diterima.
               b.      Komunikasi non verbal :
·         Penampilan fisik.
·         Sikap tubuh dan cara berjalan.
·         Ekspresi wajah.

4.      Implikasi Manajerial.

Implikasi mempunyai artinya akibat dalam kamus Bahasa Indonesia. Kata Implikasi bisa merujuk kepada salah satu aspek yaitu menajemen. Dalam menajemn terdapat implikasi:
     a.       Implikasi prosedural meliputi tata cara analisis, pilihan representasi, perencanaan kerja dan formulasi kebijakan
      b.      implikasi kebijakan meliputi sifat substantif, perkiraan ke depan dan perumusan tindakan

Daftar Pustaka
      
·         Dr. Arni Muhammad, 2005 , Komunikasi Organisasi, juli 2005, PT Bumi Aksara
·         Drs. Tommy Suprapto, M.S,  2005 , Pengantar Teori dan Menajemen Komunikasi, MediaPress Indo
·         Dr. Farid Hamid M.Si, Heri Budiyanto S.Sos M.Si ,2011, Ilmu Komunikasi : sekarang dan tanntangan masa depan, Kencana Prenada Media Group.
·         wikipedia, 2013, http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_definisi_komunikasi, 15/03/2014, 17:35