Senin, 03 November 2014

Kalimat Efektif

1.    Pengertian Kalimat Efektif.
Pengertian Kalimat Efektif menurut beberapa Ahli:
a.         Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001).
b.        Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca (Arifin: 1989).
c.         Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca (Rahayu: 2007).
d.        Kalimat efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti serta di artikan (ARIF HP: 2013).

Dari beberapa pendapat beberapa Ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan,  maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud sipembicara atau penulis.

Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:
·           Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
·           Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

2.    Ciri-Ciri Kalimat Efektif

      a.       Adanya Kesatuan Gagasan.
Setiap kalimat harus memiliki kesatuan pikiran yang mengandung satu pikiran pokok. Kalimat tidak boleh diubah dari satu pikiran ke pikiran yang lain yang tidak mempunyai hubungan. Adanya kesatuan pikiran berarti adanya hubungan timbal balik anatrunsur yang mendukung kalimat. Kesatuan tersebut dibentuk dalam subyek, predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal. Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan.
Contoh:
·      Semua penduduk desa itu mendapatkan penjelasan mengenai repelita (tunggal).
·      Dia telah meninggalkan rumah pukul enam pagi dan telah berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu. (majemuk)
·      Ayah bekerja di perusahaan pengangkutan itu, tetapi ia tidak senang dengan pekerjaan itu. (pertentangan).

      b.      Adanya Kesepadanan.
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri: 
      1.      Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
Contoh:
            ·         Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
            Seharusnya: Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
      2.      Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
            ·         Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen. 
            Seharusnya: Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
           ·         Saat itu saya kurang jelas.
           Seharusnya: Saat itu bagi saya kurang jelas.
      3.      Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
            ·         Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
            Seharusnya: Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara                         pertama.
            ·         Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
            Seharusnya: Kakaknya memneli sepeda motor Honda, Sedangkan dia membeli sepeda motor               Suzuki.
      4.      Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
            ·         Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
            Seharusnya: Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
            ·         Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.  
Seharusnya: Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.

      c.       Adanya Kehematan (Pemborosan Kata).
Kehematan adalah hemat mempergunakan kata,frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
      1.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
      Contoh:
·      Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Seharusnya: Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu. 
·      Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Seharusnya: Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
     2.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
     Contoh:
·      Dia hanya membawa badannya saja. 
Seharusnya: Dia hanya membawa badannya.
·      Sejak dari pagi dia bermenung. 
Seharusnya: Sejak pagi dia bermenung.
      3.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
·      Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang 
·      Bentuk baku : para tamu, beberapa orang

d.      Adanya Kelogisan.
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
·      Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
·      Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan.
Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
·      Sejak dari pagi dia bermenung.
Seharusnya : Sejak pagi dia bermenung.

      e.       Adanya Penekanan.
Ketegasan atau Penekanan adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kaliamat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat ini memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu.
Ada berbagai cara untuk membentuk penekanandalam kalimat:
      1.      Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
·     Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan
·      Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
      2.      Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
·      Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya: Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar .
      3.      Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
·      Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
      4.      Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh:
·      Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
      5.      Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
·      Saudaralah yang bertanggung jawab.


 Sumber






Tidak ada komentar:

Posting Komentar