Selasa, 21 Oktober 2014

Ejaan yang Disempurnakan (EJK)

   Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi

   1.      Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26. Ada 26 yang masing-masing memiliki jenis huruf besar dan kecil.

   2.      Huruf Vokal
Huruf vokal aalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia jika udara yang keluar dari paru-paru tidak terkena hambatan atau halangan. Huruf vokal sering disebut juga huruf hidup. Jumlah huruf vokal terdiri atas 5 huruf, yaitu a,e,i,o,dan u.

   3.      Huruf Konsonan
Huruf konsonan adalah bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia jika udara yang keluar dari paru-paru mendapatkan hambatan atau halangan. Konsonan sering disebut juga huruf mati. Jumlah huruf konsonan ada 21.

   4.      Huruf Diftong
Huruf diftong merupakan gabungan dua buah huruf vokal yang menghasilkan bunyi rangkap. Dalam bahasa Indonesia, huruf yang melambangkan diftong adalah ai, au, dan oi.

   5.      Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan merupakan gabungan dua huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi konsonan. Dalam bahasa Indonesia dikenal 4 buah gabungan huruf konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.

   6.      Huruf Kapital
Huruf kapital sering disebut huruf besar. Huruf kapital adalah huruf yang berukuran dan berbentuk khusus. Adapun penggunaan huruf kapital adalah sebagai berikut:
a.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf  pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
·         Apa maksudnya?
·         Dia membaca buku
·         Pekerjaan itu belum selesai.
b.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
·         Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
·         Bapak menasihatkan, “Berhati-hatilah, Nak!”
·         “Kemarin engkau terlambat,” katanya.
·         “Besok pagi,” kata ibu, “dia akan berangkat”.
c.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
·           Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen.
·           Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya
·           Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
d.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
·           Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertetu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
·           Dia baru saja diangkat menjadi sultan.
·           Tahun ini dia pergi naik haji.
e.       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
·           Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
·           Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jenderal.
f.         Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
·           Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman,  Halim Perdanakusumah.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
·         Mesin diesel, 10 volt, 5 ampere
g.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
·           Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
·         Mengindonesiakan kata asing
·         Keinggris-inggrisan
h.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya,, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
·           tahun Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang Candu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
·         Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.
·         Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.

i.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
·         Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
·         berlayar ke teluk, menyeberabangi selat, pergi ke arah tenggara
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
·         garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon
j.          Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
·         Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak, Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
·         Menjadi sebuah republik, beberapa badan hukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.
k.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya:
·      Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Repulik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
l.        Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
·      Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
·      Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
·      Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
·      Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”.
m.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya:
·      Dr.            doctor
·      M.A.          master of arts
·      S.E.           sarjana ekonomi
·      S.H.          sarjana hukum
·      S.S.           sarjana sastra
·      Prof.         professor
·      Tn.            Tuan
·      Ny.            Nyonya
·      Sdr            saudara


n.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
·         “Kapan Bapak Berangkat?” tanya Harto.
·         Adik bertanya, “Itu apa, Bu?”
·         Surat Saudara sudah saya terima.
Huruf capital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
·         Kita semua harus menghormati bapak dan ibu kita.
·         Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
o.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
·           Sudahkah Anda tahu?
·           Surat Anda telah kami terima

    7.      Huruf Miring
a.         Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
·         majalah Bahasa dan Sastra, buku Negarakertagama karangan Prapanca, surat kabar Suara Rakyat.
b.         Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
·         Huruf pertama kata abad adalah a.
·         Dia buka menipu, tetapi ditipu.
·         Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.
·         Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
c.       Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
·         Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostama.
·         Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
·         Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’.

    8.       Huruf Tebal
a.       Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab,daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka,indeks, dan lampiran.
Misalnya:
·         Judul:
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
·         BAB:
BAB I PENDAHULUAN

b.      Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
·         Ahkiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
·         Saya tidak mengambil bukumu.
·         Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.
Seharusnya ketiga kalimat diatas ditulis sebagai
·         Ahkiran –i tidak dipenggal pada ujung baris.
·         Saya tidak mengambil bukumu.
·         Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.
c.       Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan polisemi.
Misalnya:
·         Kalah v 1 tidak menang ... ; 2 kehilangan atau merugi ... ; 3 tidak lulus ... ; 4 tidak menyamai
·         Mengalah v mengaku kalah
·         Mengalahkan v 1 menjadikan kalah... ; 2 menaklukkan ... ; 3 menanggap kalah


Sumber:
      ·         Sugiarto, Eko. 2013. Master EYD Edisi Baru. Yogyakarta: Suaka Media

Minggu, 12 Oktober 2014

FIKSI

Fiksi merupakan sebuah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasi hubungan – hubungan antar manusia. Fiksi ditulis secara selektif dan dibentuk dengan tujuan memasukan unsur hubungan dan dengan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia (Altenbernd  dan Lewis, 1966 : 14).
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama, interaksinya dengan diri sendiri serta interaksinya  dengan Tuhan. Tidak benar jika fiksi dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, sebab fiksi merupakan karya imajinatif yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreatifitas sebagai karya seni. Dengan tujuan memberikan hiburan kepada pembaca disamping adanya tujuan estetik. Contoh dari karya fiksi adalah cerpen, novel, drama dan puisi.
Ciri-ciri karya fiksi: 
      1.      Bersifat rekaan atau imajinasi pengarang
      2.      Bahsa bersifat konotatif
      3.      Tidak memiliki sistematika yang baku
      4.      Memiliki kebenaran relatif
      5.      Memiliki pesan moral tertentu

Dalam teori creative writing, untuk menjadi seorang penulis atau pengarang, pertama-tama harus mampu memilih kata-kata yang akan dijadikan media tulisannya. Karena, kata-kata merupakan senjata utama bagi penulis / pengarang untuk menaklukkan pembaca. Agar dapat memilih dengan leluasa, maka setiap pengarang/penulis wajib kaya atau punya koleksi kata-kata tak terbatas, untuk dirangkai menjadi kalimat. Kata-kata yang dipilih ini akan membuat tulisan baik atau buruk, menarik atau membosankan dan mudah atau sulit dipahami pembacanya.
Kosakata menurut Kridalaksana (1993: 122) sama dengan leksikon. Leksikon adalah (1) komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa. Sedangkan kosakata dalam KBBI (2001: 597) diartikan sebagai perbendaharaan kata. Pengkayaan kosakata dapat diperoleh dari bacaan, kamus, pergaulan dan penguasaan beberapa bahasa asing. Penggunaan kosa kata ini tergantung pada keperluan masing-masing (menulis untuk fiksi atau non-fiksi). Ada pun yang membuat sebuah tulisan itu mudah dipahami, yaitu:
      ·         Ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami pembacanya (tidak banyak menggunakan istilah asing dan jargon-jargon tertentu yang tidak diketahui awam).
      ·         Apabila ada kata-kata asing atau jargon-jargon tertentu, buat penjelasannya.
     ·         Ditulis dengan kalimat pendek (idealnya 10 – 15 kata, bila lebih dari itu harus ditanda dengan tanda baca yang ketat, agar pembacanya tidak tersiksa) .
      ·         Alur kalimat ditulis linier tidak bersifat ‘labirin’ (bertele-tele), sehingga tulisan terasa mengalir.
      ·         Tidak ada pengulangan kata-kata dan tidak banyak kata sambung seperti: lalu, kemudian, karena, jadi….dst.

Materi kosakata yang dapat digunakan dalam pembelajaran kosakata antara lain:
      1.      Idiom.
Istilah idiom sering disebut juga ungkapan. Soedjito dalam Asruri (2000: 28) mengemukakan bahwa idiom adalah suatu ungkapan bahasa yang berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur pembentuknya. Konstruksi tersebut tidak dapat diganti atau diubah, maka konstruksi semula menjadi tidak tepat atau berbeda.
Contoh: Kambing hitam makna kambing hitam secara keseluruhan tidak sama dengan kambing maupun hitam.

      2.      Sinonim dan Antonim.
      a.       Sinonim.
Sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain; kesamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata, atau kalimat, walaupun umumnya yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata saja (Kridalaksana 1993:198).
Contoh:  Kata mati dan meninggal, kedua kata ini disebut bersinonim. Akan tetapi, kita bisa mengatakan “Kucing itu mati”; tetapi tidak bisa mengatakan “Kucing itu meninggal”.

 b.      Antonim.
Antonim adalah dua buah kata yang maknanya “dianggap” berlawanan. Dikatakan “dianggap” karena sifat berlawanan dari dua kata yang berantonim ini sangat relatif. Ada kata-kata yang mutlak berlawanan ( Chaer, 2006: 390).
Contoh: Kata mati dengan kata hidup, kata siang dengan kata malam, kata kaya dengan kata miskin.

      3.      Makna Denotasi dan Konotasi.
      a.         Denotasi.
          Denotasi adalah kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau didasarkan atas konvensi tertentu, sifatnya objektif (Kridalaksana 1993: 40). Makna denotasi merupakan makna sebenarnya, yaitu makna yang mengacu pada suatu referen tanpa ada makna lainnya, bukan makna kias atau tambahan. Denotasi merupakan suatu makna yang bersifat umum, tradisional, lugas, presedensial, sehingga tidak menimbulkan interpretasi dari pendengar atau pembaca.

b.         Konotasi.
Konotasi adalah aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca) (Kridalaksana 1993: 117). Sedangkan,  menurut Soedjito (dalam Asruri 2000: 31) membagi konotasi menjadi dua golongan, yaitu konotasi positif dan konotasi negatif. Konotasi positif yaitu konotasi yang mengandung nilai rasa tinggi, baik, halus, sopan, menyenangkan, sakral dan sebagainya. Sedangkan konotasi negatif yaitu konotasi yang mengandung nilai rasa rendah, jelek, kasar, kotor, porno, berbahaya dan sebagainya.

      4.      Kata Baku dan Tidak Baku.
a.         Kata baku.
Kata baku adalah bahasa yang mengikuti kaidah bahasa yang berlaku atau bahasa yang dijadikan tolak ukur atau standar masyarakat pemakai bahasa dan ditentukan sebagai bagian dari ragam baku atau resmi berdasarkan kesepakata. Kata baku digunakan dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.
b.         Kata tidak baku
Kata tidak baku adalah bahasa yang tidak mengikuti kaidah bahasa yang telah ditentukan. kata tidak baku digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari, atau bahasa tutur.



KATA BAKU
KATA TIDAK BAKU
Teknik
Tehnik
Manajer
Manager
Ijazah
Ijasah
Nasihat
Nasehat
Apotek
Apotik
Analisis
Analisa
Psikotes
Spikotest

Sumber: